Angga Dwimas Sasongko: Film Heartbreak Motel memadukan 3 format film berbeda

TEMPO.CO, Jakarta Film Motel Patah Hati Adaptasi novel laris karya Ika Natasse ini akan digarap sedemikian rupa hingga menghadirkan sesuatu yang baru. Selaku sutradara, Angga Dwimas Sasongko mengungkapkan, proyek terbaru Visinema Pictures memadukan 3 format film berbeda.

Menggarap film dari novel kompleks hingga karya layar lebar, Angga mengaku akan menghadirkan sesuatu yang baru. roller coaster yang emosional kepada penonton. “Jadi kami akan banyak melakukan eksplorasi visual di film ini. Selain format digital, kami juga menggunakan format film seluloid,kata Angga saat ditemui di Jakarta Selatan pada Rabu, 6 Desember 2023.

Heartbreak Motel menggabungkan 3 format film

Diakui Angga, novelnya sendiri memiliki kompleksitas yang menarik. Karakternya tersebar di beberapa dunia. Oleh karena itulah ide ini muncul karena cerita hadir dalam 3 dunia dengan kombinasi 3 format film berbeda.

Setelah menemukan aktor yang tepat, ia memikirkan bagaimana cara membuat film tersebut menarik. “Dari segi storytelling dan produk, karena ceritanya mencakup 3 dunia, saya berpikir untuk menggabungkan 3 format berbeda. Menjajaki kombinasi format digital dengan film selulosa 16mm dan 35mm,” antusias Angga.

Alasan menggunakan film seluloid

Menurut Angga, proyek ini sekaligus tonggak sejarah lainnya dari Visinema dalam produksi film drama berkualitas tinggi. Setelah puluhan tahun, akhirnya ia kembali membuat film dengan menggunakan seluloid. Sebagai sineas, Angga mengaku ingin setiap film yang ia garap ada yang syuting seorang pendongeng atau sutradara yang lebih baik.

“Setelah film 13 bom di Jakarta dengan banyaknya adegan aksi, mungkin ini saatnya saya kembali ke masa ketika saya belajar membuat film. Bagaimana “Membuat film seluloid dengan disiplin dan penuh perhatian,” kata sang pendiri Gambar Visinema Ini.

Baca Juga  Rekening Kementerian Pertahanan

Selain itu, ia juga mengatakan alasan penggunaan film seluloid adalah untuk mengingat bahwa pengerjaan film tidak boleh sia-sia. Jadi ini adalah momen yang tepat baginya untuk kembali mempelajari sesuatu yang baru dan dia sangat menantikannya.

Di sisi lain, Angga memutuskan melakukan eksperimen tersebut karena menemukan cerita yang cocok. “Saya ingin membuat film tentang seluloid lagi, tapi saya tidak pernah menemukan alasan yang tepat untuk cerita ini. Lalu saat proses penulisan dengan Mas Ali (penulis skenario), sepertinya film ini cocok, sebagian dengan selulosa 16 mm dan sebagian pada 35 mm, “katanya.

Periklanan

Sekadar informasi, film seluloid merupakan film yang dibuat dari bahan baku pita seluloid melalui proses kimia. Film ditayangkan kepada penonton dengan menggunakan sistem proyeksi.

Tantangan pembuatan film dengan film seluloid

Menggunakan film seluloid 16 mm dan 35 mm tidaklah mudah. Ada beberapa kesulitan yang harus dihadapi sebelum syuting pada Januari 2024. “Kamera yang kami gunakan merupakan kamera terakhir yang digunakan pada tahun 2011. Jadi setelah 13 tahun kamera tersebut tidak pernah digunakan lagi karena format film 16mm dan 35mm.kata Angga.

Ia mengatakan, juru kamera dan produser saat ini berada di Taipei untuk memproses film yang digunakan untuk tes kamera. “Pekerjaannya akan pan-Asia karena di Indonesia belum ada infrastruktur. Gambarnya baru bisa kita lihat setelah diolah di Taipei dan dikirim ke Indonesia. Gambarnya tidak bisa langsung dilihat sebagai digital shooting,” ujarnya.

Tak hanya itu, proses pembuatan film seluloid juga memerlukan kepercayaan. “Harus mempercayai lebih banyak satu sama lain ketika bekerja dengan digital, di mana semua orang melihat monitor yang sama. “Tidak pada film seluloid, harus menunggu gambarnya diproses terlebih dahulu,” kata Angga.

Baca Juga  Ketua PBNU meminta maaf atas pertemuan anggotanya dengan Presiden Israel

Pilihan Editor: Sinopsis Heartbreak Motel yang dibintangi Laura Basuki dan Reza Rahadian



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *