Hari Anti Korupsi Sedunia 2023: Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Periode Kedua Jokowi 2019-2022

TEMPO.CO, JakartaHari Anti Korupsi Dirayakan di seluruh dunia setiap tanggal 9 Desember. Hari Anti Korupsi diperingati untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemberantasan korupsi di seluruh dunia. Peringatan ini diajukan Majelis Umum PBB untuk memerangi korupsi karena korupsi dinilai merusak institusi dan nilai-nilai demokrasi, etika, dan keadilan.

Selain PBB, ada beberapa lembaga dunia lain yang juga sedang berjuang korupsi. Laporan dari aclc.kpk.go.idlembaga Transparansi Internasional dikenal sebagai lembaga swadaya masyarakat internasional yang memerangi korupsi dengan sering menerbitkan laporan Indeks Persepsi Korupsi (CPI) setiap negara di dunia.

Laporan ini memberi peringkat pada 180 negara di seluruh dunia berdasarkan persepsi masyarakat terhadap korupsi di posisi publik dan politik. Negara yang menerima IIndeks Persepsi Korupsi tingkat yang lebih tinggi, misalnya 100, berarti persepsi korupsi di negara tersebut rendah. Sebaliknya, semakin kecil nilai 0 berarti persepsi korupsi di negara tersebut tinggi.

Lalu bagaimana indeks persepsi korupsi Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi periode kedua dari 2019 hingga 2022? Berikut Indeks Persepsi Korupsi Indonesia berdasarkan berita Transparansi Internasional.

  • Pada tahun 2019, Indonesia memperoleh 40 poin dan menduduki peringkat 85 dari 180 negara.
  • Pada tahun 2020, Indonesia mengalami penurunan 3 poin dari 40 menjadi 37 poin dan turun dari posisi 85 ke posisi 102 dari 180 negara.
  • Pada tahun 2021, Indonesia mengalami peningkatan satu poin dari tahun 2020 menjadi 38 poin. Posisinya berada di peringkat 96 dari 180 negara.
  • Pada tahun 2022, Indonesia mengalami penurunan empat poin menjadi 34 poin. Posisi Indonesia turun drastis dari peringkat 96 menjadi peringkat 110 dari 180 negara.

Menurut perwakilan Transparency International Indonesia (TII) Wawan Suyatmik, Indeks Persepsi Korupsi pada tahun 2022 akan mengalami penurunan paling drastis sejak tahun 1995. “CPI (Indeks Persepsi Korupsi) Indonesia pada tahun 2022 memiliki skor 34 dari 100 dan berada di peringkat 110. dari 180 negara yang berpartisipasi dalam survei ini. Skor ini turun empat poin sejak tahun 2021 dan merupakan penurunan paling drastis sejak tahun 1995,” kata Wawan. Di antara.

Periklanan

Baca Juga  Nicolas Cage menjawab bahwa dia tidak dibayar untuk berakting dalam film yang meninggalkan Las Vegas

Menurut Wawan, dikutip dari transperenci.org, ada tiga faktor utama yang menyebabkan penurunan tersebut. Sebagai berikut.

  1. Panduan Risiko Negara Internasional dari Political Risk Service (PRS) diturunkan dari peringkat 48 menjadi 35 pada tahun 2021, termasuk korupsi dalam sistem politik, pembayaran khusus, suap untuk impor dan ekspor, serta hubungan mencurigakan antara politisi dan pengusaha.
  2. Buku Tahunan Daya Saing Dunia IMD turun lima poin dari 44 menjadi 39, dengan melihat penyuapan dan korupsi dalam sistem politik.
  3. Indeks Asia Risk Guide Political and Economic Risk Consultancy (PERC) juga turun menjadi 29 dari 32.

Jenis korupsi, suap, gratifikasi, dan konflik kepentingan antara politisi, pejabat publik, dan pengusaha masih sering terjadi. Pengusaha yang datang ke Indonesia tidak hanya memiliki risiko untung dan rugi, tetapi juga risiko politik, kata Wawan. .

Selain itu, indikator penegakan hukum menunjukkan kebijakan antikorupsi belum efektif dalam mencegah dan memberantas korupsi. Praktik korupsi masih terjadi dalam penegakan hukum, menandakan belum efektifnya kebijakan tersebut pada tahun 2022.

Pilihan Editor: Indeks persepsi korupsi semakin buruk, Indonesia berada di peringkat 110 dari 180 negara



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *