Sosok Yulion, putra Papua yang menyisihkan sumbangan beasiswa untuk membantu anak-anak di pedalaman

TEMPO.CO, Jakartabeasiswa Surat Keterangan Pendidikan Menengah Daerah (Adem). Papua memberi harapan pada Yulion Mirin. Berkat beasiswa yang diberikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Yulion berupaya mencapai jenjang pendidikan setinggi-tingginya agar bisa maju di daerahnya.

Yulion saat ini sedang menyelesaikan pendidikan menengahnya di Kabupaten Bangli, Bali. “Awalnya saya tidak tahu ada provinsi Bali, saya hanya tahu daerah Yogyakarta,” ujarnya seperti dikutip dari situs Kemendikbud.

Putra Kabupaten Pegunungan Bintang, Pegunungan Papua ini memberanikan diri pindah ke Bali untuk belajar di SMA Negeri 1 Melaya. Perbedaan bahasa dan budaya menjadi tantangan baginya.

“Selama bersekolah, saya menghadapi kendala budaya dan bahasa yang awalnya membuat saya kewalahan. Namun seiring berjalannya waktu dan berkat dukungan teman-teman serta kepala SMAN 1 Melay, saya bisa beradaptasi dengan lingkungan baru bahkan belajar bahasa Bali, kata Yulion.

Tolong bagikan

Upaya Yulion terhadap pendidikan tidak terbatas pada pemberdayaan diri. Ia pun ingin memberikan dampak positif bagi kehidupan anak-anak yang mengalami nasib serupa dengannya, yakni sulitnya akses terhadap pendidikan.

Yulion ingin mereka yang memiliki keterbatasan finansial tetap bisa mengenyam pendidikan tinggi. Dengan tujuan mulia tersebut, pada tahun 2021 ia memutuskan untuk mengalokasikan sebagian tunjangan biaya hidup untuk beasiswa afirmatif yang diterimanya.

Periklanan

“Saya mendapat Rp2 juta, lalu sebagian dananya saya alokasikan untuk membuat program bernama Alat Tulis Sahabat di Pedalaman Papua,” kata Yulion.

Program yang digagas Yulion ini bertujuan untuk memberikan perlengkapan sekolah gratis bagi anak-anak usia sekolah di pedalaman Papua. Pada tahun 2021 Melalui Yayasan KAMI, ia menyalurkan bantuan kepada 67 anak di Labuan Bajo.

“Selain itu, pada tahun 2022, bantuan yang sama akan saya salurkan ke kampung Misool di Raja Ampat, Papua Barat untuk 96 anak,” kata Yulion.

Baca Juga  Kehilangan ponsel Anda? Berikut 9 tindakan yang harus Anda lakukan

Berkat langkahnya tersebut, Yulion mendapat penghargaan sebagai donatur dari Pemerintah Daerah Raja Ampat pada usia 16 tahun. Langkah Yulion juga menjadi pengingat bahwa satu tindakan kecil dapat membuat perbedaan besar dalam kehidupan orang lain.

Pilihan Editor: Kisah Sion dan Horas, Siswa Papua yang merantau ke Yogyakarta dengan cita-cita menjadi guru dan anggota DĽR



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *